Laksamana Melaka Naik Haji

Laksamana Melaka Naik Haji – Hikayat Hang Tuah adalah sebuah karya Melayu lama yang ditulis di Johor pada akhir abad ke-17. Hikayat itu sebuah epik yang menceritakan kelebihan dan keistimewaan seorang tokoh dengan segala bakat dan kesaktiannya. Namun isinya sebagian otentik karena tokoh tersebut, Hang Tuah, memang pernah hidup di Melaka pada abad ke-15, dan sebagian pengalaman dan petualangannya dalam hikayat itu bersumber pada peristiwa yang betul-betul terjadi pada masa itu. Diceritakan antara lain bahwa Hang Tuah (disebut “Laksamana”) naik haji pada waktu diutus ke Istanbul oleh Sultan Melaka dengan tugas membeli meriam. Dalam perjalanan itu, Hang Tuah memimpin sebuah aramada sebesar 42 kapal dan 1.600 orang. Waktu berlayar di depan pelabuhan Jeddah, Hang Tuah mendengar dari seorang mualim kapal bahwa makam Siti Hawa tidak jauh dari kota itu. Maka dia memutuskan untuk berziarah ke makam tersebut karena “hendak mengambil berkatnya”. Kapalnya (bernama Mendam Berahi) berlabuh di Jeddah, dan Hang Tuah disambut dengan hormat oleh Syahbandar setempat, lalu oleh Gubernur’, Malik Rasal. Pada masa itu konon Syarif Mekkah (disebut “Raja Mekkah”) adalah Syarif Ahmad bin Zainul Abdidin, sedangkan raja Madinah adalah saudaranya, Syarif Baharuddin, kedua duannya di bawah kekuasaan Sultan Rum.

Berbagai keterangan ini tida jelas asalnya dan tidak sesuai dengan fakta sejarah, karena Syarif Mekkah pada waktu itu adalah Muhammad ibn Barakat (mem. 1455-1495, lih. Gaury 1951:108-110, 290), yang berada di bawah kekuasaan Sultan Mesir, Qaitbay dari Daulah Mamalik (Mekkah baru akan dikuasai oleh Turki Osmani, wakte Turki menaklukkan Mesir tahun 1517). Bulan Zulhijah sudah dekat, Malik Rasal mengajak Hang Tuah agr naik haji bersama-sama. Demikianlah tokoh Melaka yang tersohor itu haji secara tidak sengaja, karena singgah di Jeddah dan diajak ikut, Inie mengherankan, tetapi sebenarnya sesuai dengan nada keseluruhan hikavot yang sifat Islamnya sangat dangkal. Hang Tuah melawat ke negeri non-lsl seperti Majapahit, Siam dan Tiongkok, sebagaimana dia mengunjungi ne Islam, seperti Terengganu, Mesir dan Istanbul. Di setiap negeri itu. apu setempat hampir tidak diperhatikannya. Di Melaka pun, hal-ihwal agama tidak disebut-sebut. Ketika Hang Tuah berdoa kepada Allah supaya diperkenankan mencapai sebuah pulau, dan selanjutnya melarang awak kapalnya mengambil apa saja di pulau tersebut sebelum mengucapkan Surat Fatehah (HHT: 342. hal ini mengherankan karena begitu berbeda dengan sikap Hang Tuah padu umumnya. Dalam hal Hang Tuah naik haji, semua ritus dilaksanakannya, di berziarah ke segala makam keramat yang ada, tetapi pengalaman rohaninya tidak diungkapkan sama sekali. Dan sepulangnya ke Melaka, Sri Sultan bertanya tentang Rum, bukan tentang haji dan Tanah Suci. Di tengah jalan antara Jeddah dan Mekkah, Hang Tuah berjumpa dengan Nabi Khidir, yang memberikannya sebuah cembul. Berkat cembul itu, Hang Tuah menguasai segala bahasa manusia. Hang Tuah sebetulnya sudah pemah bertemu dengan Nabi Khidir ketika berlayar ke India. Para wali Nusantara seringkalimempunyaipertaliankhusus denganseorangnabi.Syekh Muhammad Samman umpamanya akrab dengan Nabi Ibrahim, sedangkan Syekh Yusuf al- Makasari akrab dengan Nabi Khidir. Apakah Hang Tuah dilukiskan di sini seperti seorang wali yang bertalian khusus dengan seorang nabi? Jelas tidak Kalau diperhatikan fungsi kedua pertemuan Hang Tuah dengan Nabi Khidir tersebut, dan kalau diingat bahwa Sultan Melaka pun berjumpa dengan nabi itu, maka nyatalah adegan itu hanya menandai kebesaran jiwa tokoh Hang Tuah, Malah boleh diperkirakan bahwa munculnya Nabi Khidir dalam Hikayar Hang Tuah adalah hasil pengaruh dari Hikayat Iskandar Zulkarnain. Mengherankan pula bahwa kisah naik haji itu dinyatakan tanggalnya

yaitu 9 Zulhijah 886, bertepatan dengan 29 Januari 1482, Ini satu-satunya tanggal yang tercantum dalam seluruh hikayat tersebut, dan itu pula bukti bwa kisah itu sebenarmya disalin dari sebuah naskah lain, Gaya fasal itu n berbeda dengan gaya keseluruhan hikayatnya, lebih padat, faktual dan sahaja. Bahwa sebuah kisah yang sama sekali asing pada riwayat hidup lone Tuah dapat diselipkan ke dalam hikayatnya bukan hal luar biasa. Hikayat Hang Tuah ternyata berisi dua fasal lagi yang disalin dari sumber lain, kedua- duanya tentang deskripsi kota Istanbul: satu dipetik dari Sulatat al-Salatin, au lagi dari Bustan al-Salatin, yaitu dua teks Melayu bersifat sejarah yang ditulis beberapa waktu sebelumnya, pada awal abad ke-17. Perbedaan gaya antara kisah naik haji ini dan keseluruhan hikayatnya elah diamati oleh Shelly Errington (1975) dan Matheson & Milner (1984), dan berusaha ditafsirkan oleh mereka. Menurut Errington (seperti dikutip oleh Matheson & Milner 1984:10-11) kisah ini merupakan suatu keterputusan dalam Hikayat karena menengarai sebuah tahap kesadaran baru dalam pemikiran politik Melaka, di mana Sultan Melaka mengakui adanya otoritas lain daripadanya sendiri atas agama Islam. Matheson & Milner (1984:11-13) menyangkal tafsiran ini. Buat mereka, kisah ini hanya peristiwa kecil yang malah diperkecil lagi dalam narasinya sambil disesuaikan dengan sudut pandang Melaka, yakni dimelayukan. Artinya, buat ketiga penulis tersebut, kisah naik itu nyata (Hang Tuah benar-benar pernah naik haji) dan diceritakan dengan gaya tersendiri, mungkin karena menunjukkan pembaharuan dalam sikap kerajaan Melaka (Errington), mungkin pula karena bertentangan dengan ideologi Melaka (Matheson & Milner).

Saya kira kedua tafsiran ini dua kali salah. Pertama, karena gaya adegan ini yang sangat khas ditambah penyebutan suatu angka tahun (satu-satunya dalam seluruh teks itu) membuktikan bahwa adegan tersebut tidak ditulis oleh pengarang Hikayat Hang Tuah, melainkan dikutip dari suatu teks lain’. Kedua, karena keganjilan adegan ini tidak disebabkan pertentangan dengan haluan politik kerajaan, seolah-olah mau diremehkan oleh pengarangnya sendiri, melainkan sebaliknya sengaja ditambah oleh pengarang karena terasa perlu. Kita tidak tahu persis kapan, oleh siapa dan dalam kondisi mana Hikayat Hang Tuah dikarang, misalnya mulai dengan beberapa anekdote tentang Hang Tuah yang kemudian bertambah-tambah dan akhirnya disatukan dala itu berkembang dari waktu ke waktu. Seperti dikatakan di atas, agama lilam satu narasi bergaya hikayat, namun kita dapat memperkirakan bahwa hikay tampil dalam hikayatnya dengan sangat dangkal. Perkiraan saya tahap justru dianggap terlalu dangkal dan patut ditambahi adegan yang kha Islam. Pada saat itulah, adegan naik haji dipetik dari teks lain dan diselipka dalam hikayatnya, sambil disesuaikan dengan tokohnya. Singkatnya, pada hemat saya, Hang Tuah tidak pernah naik haji, dan sa adegan yang bersangkutan ditambah pada Hikayat Hang Tuah dengan n memperkuat sifat Islam hikayat itu. Ada beberapa bukti yang mendi tafsiran ini.

Pertama, waktu Hang Tuah dikisahkan naik haji, tahun 1482 s Melaka secara terbuka mengambil sikap anti-haji: orang Melayu, katany tidak perlu naik haji karena Mekkah yang sebenarnya berada di Melaka (lib Pendahuluan di atas). Kedua, ketika Hang Tuah pulang ke Melaka, Sul tidak ingin tahu tentang pengalaman berhaji itu, ia tidak bertanya dan Hane Tuah tidak menceritakannya. Ketiga, terdapat dua kerancuan dalam kisah naik haji Hang Tuah (padahal teksnya sangat pendek): Laksamana “ziarah pula pada makam Ibrahim” (kata makam salah diartikan sebagai kuburan, padahal menunjukkan batu pijakan Nabi Ibrahim selama pembangunan Ka’bah) dan ia “mencium batu yang bernama Hajar al-aswad” di dalam Ka bah. Kedua kekeliruan itu tentu saja dapat disebabkan kesalahan yang dilakukan eleh seorang atau malah beberapa orang penyalin berturut-turut, tetapi lebih besar kemungkinan kiranya bahwa teks adegan tersebut diterjemahkan dari bahasa Arab oleh seseorang yang tidak mengenal Masjidil Haram. Kita tidak mungkin mengetahui apakah sumber tentang kisah Hang Tuah naik haji, asalnya dalam bahasa Arab atau bahasa Melayu. Kalau Arab berarti fasal dalam Hikayat Hang Tuah hanya saduran saja, namun disesuaikan dengan figur Hang Tuah dan ditambah atau dikurangi seperlunya, misalnya ditambah adegan pertemuan dengan Nabi Khidir. Sedangkan kalau asalnya Melayu. berarti kita mempunyai kesaksian seorang Melaka naik haji pada tahun 145 itu, tiga puluh tahun sebelum kota itu jatuh ke tangan Portugis. Bagaimanapu juga, ada beberapa hal yang menarik perhatian dalam kisah tersebut. Hale Tuah tinggal beberapa hari di Mekkah, dia “pergi ziarah segala kubur sye dan wali Allah nabi, segenap tempat ziarah itu semuanya dikerjakan. dia seolah-olah tidak masuk Masjidil-Haram, tdak melakukan tawaf, t melakukan sa’i, langsung berangkat ke Arafat begitu saja

Leave a Reply